88 views

Jerat Fitnah Mahkota Dhaha (bag 4) Sang Naranatha Tinitah

Saat itu tidak ada orang yang sanggup memadukan kaidah bahasa Sansekerta dan bahasa Jawa yang baik dan benar kecuali hanya sesosok Mpu yang rendah hati dan tak lain ada pada diri Mpu Sedhah seorang.

–M. Syahrul Ulum–

Prabu Jayawarsa berhasil menguasai Jenggala-Panjalu dalam kurun waktu kurang lebih tiga dasawarsa sebelum akhirnya diberontak oleh pasukan Dhaha di bawah pimpinan Prabu Bameswara. Sepeninggal Prabu Bameswara, tahta Dhaha diserahkan kepada putranya, Jayabhaya. Di tangan seorang Jayabhaya inilah nama Dhaha semakin kuat mengalahkan kebesaran nama-nama raja sebelumnya. Keberhasilan sang Naranatha Jayabhaya dalam membesarkan nama Dhaha tidak lepas dari kepribadian diri seorang Jayabhaya yang ulet, kuat, tanpa kenal menyerah di samping keahlian diplomasinya yang sangat ampuh. Pernikahan merupakan salah satu kunci untuk meredam gejolak konflik internal warisan Jenggala-Panjalu yang banyak memakan korban tak berdosa. Sang Naranatha semasa hidupnya sukses mengawinkan putra Jenggala dengan bidadari Dhaha, Panji Inu Kertapati dengan Galuh Candrakirana. (baca juga: serat katresnan Galuh-Panji) Kesuksesan tersebut menjadi folklor bagi masyarakat sekarang dengan sendratari yang mengambil lakon cerita panji.

Keberhasilan meredam gejolak api panas konflik internal dalam negeri, Dhaha dengan Prabu Jayabhaya-nya tak luput dari pemberitaan juga diimbangi dengan keberhasilan melakukan invasi keluar dalam rangka memperluas wilayah kekuasaannya. Tercatat Dhaha berhasil menguasai Jambi dan Selat Hujung Medini.

Karena kemenangan tersebut, Sang Naranatha mempunyai keinginan untuk mengenangnya dengan mengubah kitab karangan Begawan Byasa Kresa Dwipayana yaitu Mahabharata pada bab-bab di mana perang besar antara Kurawa dan Pandawa terjadi ke dalam bahasa Jawa.

Saat itu tidak ada orang yang sanggup memadukan kaidah bahasa Sansekerta dan bahasa Jawa yang baik dan benar kecuali hanya sesosok Mpu yang rendah hati dan tak lain ada pada diri Mpu Sedhah seorang. Seorang brahmana yang berdiam di Padepokan Lemah Tulis, seorang yang pernah dilukai perasaannya oleh karena telah direbut tambatan hati oleh Prabu Samarotsaha dan sekarang cucunya sendiri, Jayabhaya berbalik meminta tolong kepada orang yang lukanya belum mengering sepenuhnya sebab calon istrinya pernah direbut secara paksa untuk dijadikan parameswari raja. Luka tersebut belumlah kering betul untuk sekedar berjalan menyusuri bibir pantai yang tiada berhujung, sedikitpun terkena air maka goresan tersebut akan menjadi borok yang tentunya lebih berbau menyengat daripada luka sebelumnya. Seorang Mpu yang juga pujangga atau Rakawi Sedhah tidak mungkin hanya berjalan di bibir pantai dalam melaksanakan dharma bhaktinya, sudah pasti hasilnya tidak akan maksimal. Untuk mencapai rasa tertinggi dari karya yang dihasilkan haruslah menyelam sampai ke dasar laut. Hasrat sang Naranatha yang semula murni hendak mengenang keberhasilan menguasai sebagian wilayah Swarnadwipa mendadak saja terselip niatan licik untuk menyingkirkan Mpu Sedhah, sosok berpengaruh yang memiliki keagungan yang hapir-hampir menyamai kebesaran Sang Naranatha Dhaha sendiri.

Read also:  TREN GOWES : SOLIDARITAS TANPA BATAS

Sang Naranatha tahu bahwa Mpu Sedhah masih menyimpan rasa cinta kepada Prabharini, parameswari-nya. Sang Naranatha juga tahu bahwa ketika tengah mengerjakan penulisan, maka Sedhah akan melaksanakan dengan sepenuh jiwa. Jika sebelumya ketika menulis karya lain Sang Rakawi cukup berenang di pantai hingga tengah laut, tetapi khusus untuk tugas yang diembannya kali ini dari titah sang Naranatha, Sang Rakawi harus menyelam ke dasar laut sampai menemukan palung terdalam. Artinya perlu usaha dan pengorbanan yang lebih besar. Terlebih di dalam bab yang akan digubahnya tersebut terdapat sosok manusia yang diidolakan oleh sang Rakawi yaitu Prabu Salya, maka menjadi suatu keniscayaan bila dilakukan dengan segenap jiwa. Prabu Salya adalah kakak ipar Prabu Pandu. Dewi Madrim, istri kedua Prabu Pandu adalah adik dari Prabu Salya ini. Sang Naranatha mengetahui bahwa Sedhah sangat mengagumi sosok Prabu Salya, maka atas dasar tersebut dirancanglah sebuah perbuatan yang tidak patut. Oleh Sang Naranatha pekerjaan tersebut dibebankan kepada sosok Mpu Sedhah. Mpu Sedhah ditunjuk sebagai rakawi untuk mengerjakan penggubahan Kitab Mahabharata pada bab Bratayudha dari bahasa Sansekerta ke dalam bahasa Jawa. Sang Naranatha seakan-akan lupa kalau Sedhah memiliki luka yang belum sembuh kering dan luka tersebut akan bertambah parah jika terkena air. Dan tugas yang diembannya kali ini ibarat air yang sewaktu-waktu bisa menambah parah luka tersebut.

Mpu Sedhah menerima tugas tersebut tanpa ada kecurigaan apapun sebab sejatinya segala yang tejadi di dunia ini hanyalah titah Sang Pencipta semata, Sang Rakawi sangat-sangat menyadarinya. Di Padepokan Lemah Tulis Mpu Sedhah dengan penuh kesungguhan mengerjakan titah sang penguasa Dhaha.

Namun, tatkala sampai pada Salyaparwa, yaitu bagian yang menuturkan Prabu Salya harus berpamitan kepada parameswari-nya, Dewi Setyawati mendadak saja Sang Mpu tidak sanggup meneruskan tugasnya. Beliau membutuhkan wanita sebagai perantara curahan hatinya.

Bisa saja beliau meneruskan tugasnya tanpa perantara, namun sekali lagi ada bagian yang mengisahkan tentang tokoh besar, mengerjakan dengan ecek-ecek sama saja dengan melempar telur busuk ke wajah tokoh yang dikaguminya, Prabu Salya. Lantas Sang Mpu marak ke Dhaha memberikan kabar bahwa ia tidak mampu meneruskan tugasnya, ada syarat yang harus dipenuhi jika harus diteruskan dengan tetap mempertahankan citrarasa jawa yang adiluhung, maka harus disediakan wanita. Dan tepat wanita yang diinginkan Sang Mpu untuk meneruskan titah Sang Naranataha adalah Dyah Ayu Prabharini. Bekas calon istrinya yang sekarang sudah menjadi parameswari Sang Naranatha sendiri. Tanpa pikir panjang Sang Penguasa Dhaha mengabulkan permintaan Sang Mpu, mengizinkan permaisurinya yang dahulu sempat berpadu kasih kini bertemu kembali dengan cinta lamanya, namun dengan situasi yang tentunya sudah berbeda dengan sebelumnya. Jerat fitnah sudah mulai menemui titik sasaran dan peristiwa inilah yang sebenarnya diinginkan oleh Sang Naranatha, tinggal bagaimana cara mengemasnya sedemikian rupa agar tidak tertalu terlihat intriknya.

Read also:  Spirit Islam dalam Spirit Kapitalisme Max Weber

Dua sejoli yang setelah sekian purnama tidak pernah bertemu kini bak munculnya laron di musim hujan, sangat riang gembira, sampai tak sadar bahwa sebenarnya telah masuk ke jerat fitnah yang bisa saja merenggut nyawanya. Namun, sudah berbeda kisahnya, Sang Mpu tetaplah seorang brahmana pujangga, sedangkan Dyah Ayu sudah menjadi parameswari raja. Bagaikan cinta lama bersemi kembali, kedua orang tersebut hanya saling pandang-memandang, tiada tutur kata yang terucap, menyentuh saja tidak apalagi sampai melakukan perbuatan senonoh. Sangat-sangatlah jauh dari prasangka buruk tersebut. Sesekali Sang Mpu memandang paras cantik Dyah Ayu sambil menuliskan bait-bait indah di tulisannya. Manakala pikiran buntu, kecantikan dan juga kemolekan tubuh Dyah Ayu-lah yang sanggup menumbuhkan buah pikir yang jernih.

Kemurkaan Sang Naranatha mendadak saja terbangkitkan setelah mendengar pelaporan dari seorang abdi kedhaton yang mengatakan antara Sang Mpu dan Dyah Ayu Prabharini telah melakukan perbuatan yang tidak benar. Sontak saja warta tersebut cepat menyebar di lingkungan kedhaton juga masyarakat sekitarnya. Warta busuk yang menyebutkan Mpu Sedhah dan Dyah Ayu telah melakukan persenggamaan. Para brahmana, ksatria, weisya sampai sudra sekalipun sangat tidak percaya akan kebenaran warta tersebut. Tiada satu pun bukti yang bisa ditunjukkan untuk membenarkan warta menyesatkan tersebut. Mereka berdua sudah cukup uzur, pandangan orang pada umumnya sudah tidak ada lagi kekuatan untuk melakukan persenggamaan di saat orang sudah menginjak kepala tujuh, apalagi ini adalah seorang Brahmana keturunan Sang Mahawiku Baradhah yang sepanjang hidupnya selalu mengamalkan dharma bhaktinya secara total. Maka berita persenggamaan tersebut bisa terbantahkan. Akan tetapi, bara amarah Sang Naranatha sudah terlanjur disulut, sangat sulit untuk dipadamkan. Sang Naranatha lebih percaya omongan dari abdi kedhaton daripada bukti-bukti yang ditunjukkan. Sang Mpu dinyatakan telah kapatita dari ke-brahmana-annya. Dengan demikian, Sang Penguasa Dhaha menjadi tidak lagi berasa segan untuk menjatuhkan hukuman mati baginya dengan cara penggal kepala.

Read also:  Menguji Gagasan Karl Marx di Masa Pendemi Covid-19

bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *