85 views

Komedi Jadi Ladang Dakwah?

Fenomena dakwah yang dilakukan pendakwah masa kini dapat dikatakan menarik untuk menjadi bahan perbincangan. Memanfaatkan teknologi informasi merupakan salah satu tujuan untuk menyebarkan ajaran agama. Modernisasi menjadi alat untuk memudahkan jalan dalam melakukan dakwah.

_Mislahu Amaliya_

 Mislahu Amaliya*

“Mengapa dakwah di cafe?” / “Harus ya di channel youtube?”. Menyikapi dunia dakwah saat ini sangatlah menarik, berbagai cara dilakukan agar masyarakat dapat mencerna dan menerima sebuah ajaran agama. Sering kali pendakwah mengimplementasikan dakwahnya dalam berbagai bidang, salah satunya melalui teknologi. Tidak asing lagi bagi anak muda masa kini, mengenai teknologi informasi yang sangat cepat. Memasuki era teknologi yang semakin maju, pendakwah pun juga ikut serta dalam perubahan tersebut. Dengan memutar pikiran dan ilmu, mereka melihat dan mengamati kondisi masyarakat saat ini yang nantinya dapat menjadi sasaran dakwah yang tepat.

Bukan lagi tabu, setiap hari masyarakat sudah melekat dengan teknologi. Mulai dari bangun tidur pada pagi hari hingga beristirahat di malam hari, mereka dimanjakan dengan teknologi. Realitanya, anak muda ketika bangun pagi bukan mengucap do’a melainkan mengecek gawai yang ada di sampingnya. Mereka seperti ketakutan atau kebingungan ketika gawainya tidak ada. Entah berniat untuk melihat waktu atau hanya menunggu sebuah notifikasi. Miris ketika melihat pemuda menjadi ketergantungan akan teknologi yang semakin membabi buta. Namun, tidak dipungkiri bahwa manusia juga tidak bisa lepas dengan teknologi. Perlu adanya keseimbangan dalam melakukan sebuah kegiatan agar dampak positif selalu melekat.

Fenomena dakwah yang dilakukan pendakwah masa kini dapat dikatakan menarik untuk menjadi bahan perbincangan. Memanfaatkan teknologi informasi merupakan salah satu tujuan untuk menyebarkan ajaran agama. Modernisasi menjadi alat untuk memudahkan jalan dalam melakukan dakwah. Tak khayal, agama membutuhkan modernisasi agar eksistensinya tetap terjaga dan meluas di kalangan masyarakat terutama anak muda. Mengapa anak muda yang menjadi sasaran dakwah? Pertanyaan tersebut seringkali didengar, alasannya karena anak muda cenderung dapat dipengaruhi. Bukan begitu? Mereka lebih mudah diprovokasi oleh hal apapun, baik yang positif maupun negatif. Pikiran mereka sukar untuk berpikir dengan tepat. Maka dari itu banyak anak muda yang terjerumus dalam ajaran yang radikal.

Read also:  Bagaimana Jika Iblis Menggugat?

Banyak pula anak muda yang menganggap ajaran agama bersifat monoton, dan mereka merasa bosan bahkan tidak ingin lagi menerima ajaran pendakwah. Ajaran dakwah yang disampaikan juga seakan-akan menyudutkan yang sedikitnya membuat anak muda menjadi benci. Dengan berbagai fenomena yang ada, butuh pikiran dan tenaga ekstra dalam menghadapi sikap anak muda masa kini. Terburu-buru, emosional, keras kepala dapat menggambarkan karakteristik mereka. Pendakwah mengimplementasikan dakwahnya dalam teknologi informasi, mereka membuat teknologi menjadi bahan yang positif atau menjadikan sebagai kebermanfaatan yang besar dengan menyampingkan kemadharatan. Salah satu yang menjadi perbincangan adalah dakwah melalui Youtube.

Kanal youtube menjadi media yang cukup mudah untuk diakses oleh masyarakat. Hampir setiap hari mereka membuka dan melihat berbagai macam acara, mulai dari kegiatan artis, prank, mukbang, wisata kuliner, tutorial make-up, berita dari dalam negara maupun mancanegara, bahkan hal-hal lainnya. Semua hal tersebut dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat. Tentunya pendakwah akan memanfaatkan bidang tersebut dengan tepat. Dalam menyampaikan dakwahnya pada anak muda, haruslah dengan cara halus atau lemah lembut, tidak berteriak atau melalui tindak kekerasan.

Salah satu channel youtube yang dijadikan dakwah adalah Majelis Lucu Indonesia (MLI), pada segmen “Pemuda Tersesat”. Sebenarnya channel tersebut banyak menuai kontrofersi, isi dari channel dirasa tabu dalam masyarakat. Komedi yang frontal dan ugal-ugalan bisa sedikit menggambarkan channel tersebut. Dalam segmen “Pemuda Tersesat” yang menjadi menarik adalah bagaimana ajaran dakwah disampaikan. Ada tiga orang yang menjadi tokoh dalam segmen tersebut antara lain Habib Ja’far, Tretan Muslim, dan Coki Pardede. Latar belakang kehidupan mereka berbeda-beda, Habib Ja’far dan Tretan adalah seorang Muslim sedangkan Coki adalah non muslim.

Read also:  Carut Marut Pendidikan Di Tengah Pandemi Covid-19

Habib Ja’far menyampaikan dakwahnya tidak hanya di masjid-masjid, beliau sering melakukan kegiatan dakwah di cafe-cafe. Dalam podcast Dedy Corbuzier, alasan melakukannya adalah terlalu banyak ustadz yang berdakwah di masjid, sedangkan masyarakat yang ke masjid rata-rata merupakan orang yang baik islam dan imannya. Kemudian hal tersebut ditimpali dengan perumpaan yang disampaikan oleh Dedy Corbuzier “Membersihkan tempat yang bersih, bukan yang kotor”. Artinya Habib Ja’far menyampaikan dakwahnya pada tempat yang benar-benar membutuhkan, bukan yang sudah menerima kebutuhan (ajaran).

Pada channel youtube MLI, di segmen pemuda tersesat. Habib Ja’far mampu mengimplementasikan ajaran dakwahnya dalam dunia komedi. Banyak menjadi perbincangan bahkan perdebatan, seorang Habib dakwah dalam tempat yang tabu. Menyampingkan hal negatif, banyak hal positif yang dapat diambil dalam acara tersebut. Dalam menyampaikan dakwah, Habib Ja’far dengan cara yang halus sehingga banyak anak muda yang tertarik dengan beliau. Walaupun banyak muda yang menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang di luar akal sehat. Dengan kecerdasan dan kesabaraanya, beliau menjawab berbagai pertanyaan dengan dasar agama Islam. Di mana tidak hanya bersumber dari Al-Quran, namun juga melalui kisah nabi terdahulu, serta kisah nabi Muhammad dan sahabatnya.

Cara dakwah yang dilakukan oleh Habib Ja’far dapat menjadi sebuah contoh menarik dalam berdakwah. Dunia komedi merupakan hal yang tabu dalam dunia Islam. Namun, Habib Ja’far mampu membawa ajaran Islam dengan lemah lembut, halus, dan mudah diterima oleh masyarakat terutama anak muda.

Pengimplementasian ajaran dakwah perlu diacungi jempol dan diberi apresiasi. Menggabungkan antara dua bagian yang berbeda jauh merupakan hal yang sukar, komedi dan ajaran Islam. Sebenarnya tidak hanya Habib Ja’far yang menyampaikan dakwahnya dengan metode menarik seperti di atas, masih banyak lagi pendakwah dengan metode menarik lainnya.

Read also:  "CARIUSTADZ.ID" Mobilisasi Dakwah Dalam Tindakan Sosial Max Weber

*Mahasiswi Sosiologi Agama IAIN Kediri Angkatan 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *