696 views

Sejarah Petilasan Dewi Sekartaji di Mata Masyarakat Sekitar

Wanda Aulia Fauziah*

Petilasan ini, dahulu kala menjadi tempat bertemunya Dewi dan Panji. Namun, tidak banyak orang yang tahu secara jelas bagaimana mereka bisa bertemu di tempat tersebut. Dari tempat tersebut, banyak sekali adat istiadat yang berhubungan langsung dengan kebudayaan.

Wanda Aulia Fauziah

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari berbagai macam suku, seni budaya, dan adat istiadat seperti tarian tradisional. Keragaman yang ada tersebut merupakan suatu kekayaan yang tidak dapat terhitung nilainya. Kebudayaan daerah tercemin dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat yang ada karena setiap daerah memiliki ciri khas kebudayaan yang berbeda. Di Jawa Timur misalnya, banyak hal yang menarik dari seni dan kebudayaan yang terdapat di setiap daerahnya yang terdiri dari beberapa kabupaten dan kota.

 Kebudayaan atau yang dapat disebut juga peradaban mengandung pengertian yang sangat luas dan mengandung pemahaman perasaan suatu bangsa atau daerah yang sangat kompleks meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat, kebiasaan dan pembawaan lainnya yang diperoleh dari anggota masyarakat. Mempelajari pengertian kebudayaan bukanlah suatu kegiatan yang mudah dan sederhana karena banyak sekali batasan konsep dari berbagai bahasa, sejarah, sumber bacaan atau literatur baik yang berwujud ataupun yang abstrak dari sekelompok orang atau masyarakat.

 Walaupun nilai-nilai budaya berfungsi sebagai pedoman hidup warga masyarakat, dan sebagai konsep sifatnya sangat umum memiliki ruang lingkup yang sangat luas serta biasanya sulit diterangkan secara rasional dan nyata. Namun, justru karena itulah ia berada dalam daerah emosional dari alam jiwa seseorang. Lagi pula, sejak kecil orang telah diresapi oleh berbagai nilai budaya yang hidup di dalam masyarakatnya, sehingga konsep-konsep budaya itu telah berakar dalam alam jiwanya. Karena itu untuk mengganti suatu nilai budaya yang telah dimiliki dengan nilai budaya lain diperlukan waktu yang lama.

Read also:  Jerat Fitnah Mahkota Dhaha (bag 3) Asmaradhahana Sang Rakawi

 Dalam setiap masyarakat, baik yang kompleks maupun yang sederhana ada juga nilai budaya yang saling berkaitan dan bahkan telah merupakan suatu sistem. Sebagai pedoman dari konsep-konsep ideal, sistem itu menjadi pendorong yang kuat untuk mengarahkan kehidupan warga masyarakat. Sejarah selalu memiliki keunikan dan cerita tersendiri bagi setiap individu. Sejarah juga tidak bisa dipisahkan dengan kebudayaan, adat istiadat bahkan agama karena hal tersebut selalu memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lain. Kebudayaan juga selalu mempunyai kaitannya dengan filsafat yang mana budaya merupakan bagian dari filsafat itu sendiri.

 Banyak sejarah yang memiliki kisah yang selalu menjadi kontroversi antara satu orang  dengan yang lain. Saat ini hampir semua orang sudah mulai melupakan bagaimana pentingnya sejarah pada kehidupan mereka, terutama pada remaja maupun mahasiswa. Entah sejarah yang ada di Indonesia maupun di tempat tinggal mereka. Terutama di Kediri yang mana memiliki banyak peninggalan sejarah, namun tidak banyak orang yang tahu. Dalam hal ini, peninggalan sejarah yang berada di Kediri itu yang akan dikupas secara perlahan. Meskipun, tidak semua peninggalan yang ada di Kediri akan diceritakan, mulai dari sejarah Kerajaan Majapahit, Kerajaan Airlangga, Kerajaan Dhaha, dan masih banyak lagi.

Petilasan Dewi Sekartaji Tampak Dari Depan

 Contoh yang paling sederhana adalah tentang petilasan yang selalu menjadi pertanyaan setiap orang yang berkunjung. Di Kediri, sebenarnya banyak petilasan yang ada, salah satunya adalah petilasan Dewi Sekartaji yang berada di Desa Janti Kecamatan Wates Kabupaten Kediri. Jika berbicara tentang petilasan mungkin banyak orang yang menganggap bahwa kita akan menjadi manusia yang lebih unggul dari pada yang lain, padahal nyatanya tidak seperti itu. Sebelum membahas lebih lanjut bagaimana petilasan tersebut bisa ada bahkan sampai sekarang tempat tersebut masih dihormati oleh masyarakat sekitar ataupun masyarakat luar desa, alangkah baiknya kita mengetahui arti petilasan itu sendiri.

Read also:  Wanita Pekerja Seks dan Representasi Perlawanan Patriarki

 Kata Petilasan itu sendiri adalah istilah diambil dari bahasa Jawa (kata dasar “telas” atau bekas) yang menunjuk pada suatu tempat yang pernah disinggahi atau didiami oleh seseorang (yang penting). Tempat yang layak disebut petilasan biasanya adalah tempat tinggal, tempat beristirahat (dalam pengembaraan) yang relatif lama, tempat pertapaan, tempat terjadinya peristiwa penting, atau terkait dengan legenda tempat moksa. (id.wikipedia.org/wiki/Petilasan). Petilasan tersebut merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Kediri. Pada masa kerajaan kediri dulu, sebelum kediri dibagi menjadi 2 kerajaan, yaitu Jenggala dan Panjalu banyak hal yang dapat dimaknai secara penuh oleh orang zaman terdahulu.

 Bukan hanya orang zaman dahulu saja, melainkan jika kita belajar saat ini, kita juga bisa mengenal siapa saja yang memiliki pengaruh pada berdirinya Kerajaan Kediri. Jika kita lihat dari berbagai cerita legenda yang ada di dalam tokoh tersebut hanya ada Raja Jayabaya. Dewi Sekartaji atau yang kerap dikenal dengan Galuh Candra Kirana yang  merupakan salah satu putri dari Kerajaan Dhaha, ayahnya  bernama Prabu Lembu Amijaya, ia merupakan wanita yang sangat cantik jelita pada masa tersebut. Pada saat kerajaan itu juga Dewi Sekartaji menjadi incaran untuk beberapa orang karena kecantikannya. (https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia)

 Namun, ia selalu menolak karena ia tahu bahwa dulu ia memiliki teman yang sangat dekat dengannya bahkan mereka pergi ke manapun akan selalu bersama, Dewi juga diajari bagaimana cara memanah yang benar serta berkuda. Ketika ia bersama tidak ada seorang pun yang dapat memisahkan mereka. Temannya bernama Panji Asmarabangun atau kerap dikenal dengan Panji Inu Kertapati yang merupakan salah satu putra dari Kerajaan Jenggala, ayahnya bernama Prabu Lembu Amiluhur. Mereka berdua merupakan cucu kesayangan Jayabaya pada saat itu. (Mawaddatul Khusna R, dkk, 2018)

Read also:  Majelis Taklim dan Pendidikan Kaum Perempuan (Muda)

Petilasan ini, dahulu kala menjadi tempat bertemunya Dewi dan Panji. Namun, tidak banyak orang yang tahu secara jelas bagaimana mereka bisa bertemu di tempat tersebut. Dari tempat tersebut, banyak sekali adat istiadat yang berhubungan langsung dengan kebudayaan. Tempat tersebut selalu dikunjungi oleh semua masyarakat yang tinggal di dekat petilasan bahkan ada yang dari luar petilasan. Dalam hal ini, kadang kala tujuan mereka datang ke tempat tersebut tidak dengan niat yang baik dari hatinya, melainkan kadang ia pergi ke tempat tersebut dengan tujuan ingin memohon untuk diberikan petunjuk atas apa yang sedang dihadapi oleh orang tersebut.

 Mengapa ia berkunjung ke tempat tersebut dengan tujuan seperti itu? Karena yang mereka tahu bahwa petilasan itu merupakan tempat keramat dan selalu dipercaya membawa keberuntungan jika mereka sudah berkunjung dari tempat yang masih memiliki keramat. Dalam hal inilah, banyak masyarakat yang salah mengartikan “kenapa ia pergi ke petilasan?”. Dengan kebiasaan yang seperti itu, maka secara terus-menerus masyarakat selalu memiliki tujuan yang salah ketika berkunjung ke petilasan tersebut. Padahal, jika kita lihat dari sejarah atau bahkan cerita legenda itu sendiri, Panji dan Galuh sangat tidak menyukai hal yang biasa dikatakan tidak jujur ataupun kecurangan. Jadi, bisa dikatakan bahwa anggapan masyarakat mengenai petilasan tersebut banyak yang salah dan seharusnya mereka yang datang itu memiliki tujuan yang baik serta memiliki niat dengan sepenuh hati mereka.

sumber gambar: wattpad.com

*penulis adalah Mahasiswi Prodi Psikologi Islam IAIN Kediri angkatan 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *