197 views

Serat Katresnan Galuh-Panji

Panji dan Galuh bersatu, rasanya seperti zaman sudah lebih baik dari sebelumnya, penantian yang mereka harapkan akhirnya juga terwujud dan tercapai dengan baik pula. Pada akhirnya, Panji dan Galuh berada di satu titik di mana ia akan selalu bersama tanpa ada yang bisa memisahkan mereka, meskipun dengan berbagai cara yang ada.

_Wanda Aulia Fauziah_

Wanda Aulia Fauziah*

Perihal cinta yang selalu dibuat bercanda oleh orang lain, tapi tidak oleh mereka berdua. Perihal cinta yang selalu mereka pegang meskipun banyak rintangan untuk hidup bersama. Perihal cinta yang selalu mereka yakini untuk bersatu jiwa dan raga. Perihal cinta yang membuat kehidupan mereka semakin baik. Perihal cinta pula yang membuat mereka akan bersama sampai maut memisahkan. Cinta merupakan kata yang sering terucap oleh semua insan yang ada di dunia ini, kata yang sering didengar tanpa adanya jeda waktu. Namun, tidak untuk mereka. Cinta adalah suatu emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Cinta juga dapat diartikan sebagai suatu perasaan dalam diri seseorang akibat faktor pembentuknya.

 Kata cinta, kadang kala banyak disalahartikan oleh setiap insan karena selalu memandang apa yang mereka lihat bukan yang mereka rasakan dari hati yang terdalam serta ketulusan hati mengucapkan cinta. Seperti halnya kisah cinta Panji dan Galuh yang harus terpisah karena adanya suatu hal. Kisah cinta mereka lebih membuat orang lain menginspirasi serta menguatkan antara satu dengan yang lain. Kisah ini masih memiliki hubungan dengan Petilasan Dewi Sekartaji, di mana dulu tempat itu menjadi tempat bertemu lagi setelah terpisah. Petilasan tersebut juga menjadi tempat singgah pertama kali teruntuk Galuh. Dari berbagai sumber literasi yang beredar selama ini dikatakan bahwa “Panji dan Galuh bertemu setelah adanya pembagian wilayah antara Jenggala dan Panjalu”.

 Namun, faktanya sejak kecil mereka sudah saling mengenal, menyayangi serta menjaga antara satu dengan yang lain. Di mana, pada masa kerajaan dahulu mereka masih menjadi seorang teman yang bisa dibilang akrab karena mereka masih memiliki ikatan darah dan juga menjadi cucu kesayangan dari Jayabaya. Ketika mereka masih kecil, mereka selalu pergi berdua kemana pun, entah hanya pergi ke tepi Sungai Brantas, menyusuri hutan, dan melewati gunung atau hanya sekedar berjalan dari Jenggala dan Panjalu. Mereka menyukai hal tersebut karena menurut mereka tidak ada salahnya ketika seorang Putri Kerajaan Kediri yang sangat dihormati serta seorang Ksatria menapaki serta menyusuri jalan. Bukan hanya itu Panji yang memiliki keterampilan untuk memanah selalu mengajari Galuh bagaimana cara memanah yang baik dan benar sehingga bisa tepat pada sasaran.

Tak ada yang bisa menyangka bahwa mereka harus berpisah ketika sudah beranjak dewasa dan saling mengerti apa itu arti ‘Cinta’ yang sebenarnya. Namun, hal itu hanya diketahui oleh Jayabaya. Hal tersebut pada saat ini sering disebut dengan istilah ‘Twinflame’, yaitu: cerminan diri kita yang benar-benar sempurna. Seseorang merasa ditakdirkan untuk terhubung secara fisik, emosional, mental, dan bahkan tingkat spiritual.

Ketika bersama twin flame, kamu seakan-akan melihat dirimu dalam cermin. Hubungan yang dibangun sepasang twin flame akan cenderung sangat penuh gairah karena ada perasaan daya tarik alami yang tak terelakkan di antara kedua pihak.

Read also:  Gara-gara Pandemi, Orang Tua Berasa Sekolah Lagi?

 Mereka harus berpisah dengan satu alasan, yaitu Panji harus kembali pada Kerajaan Jenggala karena utusan dari ayahnya dan saat itu juga terjadi konflik dengan Panjalu. Konflik itu ada karena orang dari Kerajaan Jenggala tidak terima atau bisa dikatakan iri kalau orang yang ada di Kerajaan Panjalu memiliki segalanya serta memiliki kemakmuran, padahal semuanya sudah dibagi rata sebelum Kerajaan Kahuripan dibagi menjadi Jenggala dan Panjalu. Dari situlah kesedihan dirasakan oleh Panji dan Galuh karena mereka tidak menginginkan hal itu terjadi. Seperti orang awam umumnya ketika sudah merasakan cinta pasti akan sedih jika harus berpisah secara tiba-tiba, apalagi mereka sudah saling menjaga antara satu dengan yang lain.

 Pastinya, rasa sedih itu semakin dalam. Dalam dunia psikologi itu sendiri, hal tersebut merupakan salah satu emosi yang dinamakan dengan ‘Kesedihan’. Namun, mereka tidak membiarkan rasa sedih itu terlalu lama bersemayam pada hati mereka masing-masing. Lambat laun, Panji dan Galuh memiliki inisiatif untuk bertemu untuk mengobati rasa rindunya karena sudah lama berpisah, meskipun mereka tahu bahwa akan banyak rintangan yang akan dihadapi ke depannya. Setiap manusia pasti melalui berbagai jalan untuk sebuh pertemuan, begitu pula yang dialami oleh Panji dan Galuh. Mereka berdua sama-sama melewati berbagai rintangan yang mungkin ketika orang lain mendapatkannya tidak akan sekuat mereka, namun keyakinan mereka sangat kuat bahwa mereka akan bersama setelah melewati proses yang panjang.

 Rintangan tidak hanya datang dari Jenggala ataupun Panjalu itu sendiri, tetapi banyak orang yang tidak menginginkan kembalinya Galuh ke Kerajaan Panjalu karena adanya masalah dari luar atau dari dalam lingkungan tempat Galuh itu sendiri. Hal itulah yang menjadikan Galuh untuk melakukan ‘Pengembaraan’ , yaitu proses, cara, perbuatan mengembara. Dalam pengembaraan yang dilakukan oleh Galuh, ia selalu menemui berbagai macam sifat yang dimiliki oleh manusia. Hal itu dialami sendiri oleh Galuh ketika ia berada di sepanjang Gunung Kawi dan bertemu dengan perempuan tua yang memiliki sifat penolong. Tetapi, Galuh harus melanjutkan perjalanannya untuk bertemu dengan Panji. Galuh harus berlari secepat mungkin, supaya orang dari Jenggala dan Panjalu tak ada yang mengetahui ke mana ia pergi sebenarnya.

Read also:  Pengamalan Sholawat Wahidiyah Pembawa Ketenangan Hati dan Jiwa

 Dalam pengembaraan yang dijalani oleh Galuh, ia selalu diremehkan oleh yang menjaganya, bukan itu saja ia juga diperlakukan secara tidak baik. Bahkan, sang kakek atau Jayabaya itu sendiri tidak bisa membayangkan betapa sulitnya segala halangan dan rintangan yang dialami oleh Galuh. Namun, ia tidak pernah menyerah dengan keadaan yang sedang dilalui demi bertemu dengan Panji. Hingga suatu ketika, ada dua orang laki-laki serta dua orang perempuan yang memberitahu pada Galuh bahwa sebaiknya ia mengikuti jalan yang ada di permukiman. Dalam perjalanannya ia memiliki rasa ingin tahu untuk mengunjungi tempat yang sangat asing serta merasakan bahwa ia akan bertemu dengan Panji di tempat tersebut dan tentunya tempat itu jauh dari Jenggala maupun Panjalu.

ilustrasi Panji Mencari Galuh
Sumber gambar id.wikipedia.org

 Demikian halnya yang dialami oleh Panji karena bukan hal yang asing ketika Panji melangkahkan kaki dan memasuki daerah yang ada di Panjalu. Ketika Galuh melakukan pengembaraan tak ada seorang pun yang bisa mencegah Panji untuk bertemu. Di waktu yang tidak lama, Dewi Kilisuci yang merupakan budhe dari Galuh memberi tahu bahwa Panji akan bertemu dengan Galuh tanpa adanya satu orang pun yang tau tempat tersebut. Tetapi, Dewi Kilisuci tidak mengetahui bahwa Galuh sudah menjalani pengembaraan karena sepanjang hidupnya Dewi Kilisuci bertapa di Gunung Batu, bahkan konflik yang ada di Jenggala dan Panjalu kebanyakan tidak diketahui oleh Dewi Kilisuci. Kemudian, Dewi Kilisuci mengutus salah satu pengikutnya untuk memberi tahu Galuh untuk bertemu dengan Panji di tempat yang sudah dijanjikan tadi.

 Namun, pertemuan mereka gagal atau belum tepat dikarenakan Panji pada saat itu kembali ke Jenggala. Sebenarnya, Panji tidak kembali ke Jenggala, melainkan menyusuri Sungai Brantas dengan cara menyamar sebagai kaum sudra (yang berarti golongan atau kasta yang terendah (dalam masyarakat yang beragama Hindu)) dan membawa perahunya untuk kembali ke Jenggala. Siapa sangka bahwa Jenggala dan Panjalu yang terbagi menjadi dua ini tidak bisa dibayangkan oleh Jayabaya pada saat itu. Pada masa Jayabaya, ia melihat bahwa Jenggala dan Panjalu sudah berbeda dan tidak ada kedamaian yang dirasakan Jayabaya sendiri. Sepanjang waktu ketika Galuh dan Panji berpisah pada saat masih terjadi konflik antara Jenggala dan Panjalu dengan tulus kakeknya atau Jayabaya mengirim punggawa yang menyamar untuk mengikuti Galuh dan Panji kemana pun mereka pergi.

Read also:  Selamat Idul Fitri 1441 H

 Sama seperti Jayabaya, Panji tidak menginginkan bahwa Jenggala dan Panjalu kembali seperti semula karena ia tau bahwa kedua tempat tersebut sudah berbeda. Panji memiliki tujuan tersendiri ketika akan bertemu dengan Galuh, yaitu rasa bersyukur yang disampaikan Panji kepada punggawa yang dikirimkan oleh Jayabaya. Dari berbagai konflik perang yang ada di Jenggala dan Panjalu membuat Panji semakin dekat dengan Panjalu serta ada rasa mengutuk, bagaimana Kahuripan tersebut bisa dibagi menjadi dua bagian jika kedua wilayah tersebut bisa kembali dengan jalan peperangan. Pada saat itu juga Panji tidak ada panggilan untuk pergi ke medan perang, waktu itu dihabiskan Panji untuk menyepi di Gunung Erlangga dan Gunung Tantra.

 Dalam kondisi yang demikian, Panji tidak pernah menginginkan Jenggala dan Panjalu bersatu lagi, sebagaimana Panji tidak menginginkan Kahuripan terbagi menjadi 2 bagian. Masih sama seperti yang dulu, tujuan Panji hanya semata-mata untuk Galuh tiada yang lain. Lambat laun, konflik itu pun akhirnya juga bisa berhenti sejenak, meskipun berbagai macam cara sudah dilakukan. Perlahan akhirnya waktu juga mempertemukan kembali Panji dan Galuh, meskipun harus melewati banyak jalan yang tidak mudah jika dibayangkan. Panji dan Galuh bersatu, rasanya seperti zaman sudah lebih baik dari sebelumnya, penantian yang mereka harapkan akhirnya juga terwujud dan tercapai dengan baik pula. Pada akhirnya, Panji dan Galuh berada di satu titik di mana ia akan selalu bersama tanpa ada yang bisa memisahkan mereka, meskipun dengan berbagai cara yang ada. Pertemuan Panji dan Galuh inilah yang selalu membuat orang lain terkagum karena banyak sekali peristiwa yang membuat mereka gagal untuk bertemu, di saat Panji dan Galuh sudah sama-sama rindu yang tak dapat lagi dibendung.

Mungkin, itulah yang bisa aku tulis dengan gaya bahasaku. Jika ada salah kata aku mohon maaf yang sebesar-besarnya. Karena aku menyadari, bahwa terkadang tulisan itu tidak semenarik yang lain namun bisa dirasakan oleh beberapa orang saja. Perihal sejarah yang sudah mulai luntur saat ini, setidaknya aku bisa menuangkan apa yang aku lihat dengan tulisan ini. Karena, sesulit apapun sejarah yang kita pelajari pasti akan ada satu titik dimana kita ingin belajar lebih mengenai sejarah itu sendiri.

Referensi

https://id.wikipedia.org/wiki/Cinta

https://www.guesehat.com/apa-itu-twin-flame

https://lektur.id/arti-pengembaraan/

https://kbbi.web.id/Sudra

Sumber gambar : Iluminasi manuskrip Panji Jayakusuma, Koleksi Perpusnas RI. Foto: Risa Herdahita Putri https://historia.id/amp/kuno/articles/kisah-nasional-majapahit-DOw18

*penulis adalah Mahasiswi Prodi Psikologi Islam IAIN Kediri angkatan 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *