187 views

Jerat Fitnah Mahkota Dhaha (bag 3) Asmaradhahana Sang Rakawi

Sudah menjadi pedoman umum bahwa pandangan seorang brahmana dalam melihat keadaan tidaklah serta merta dari kulit luarnya saja, dirinya mendapatkan kawisesan dari olah spiritual yang dijalaninya selama bertahun-tahun yaitu bisa menembus ruang bathin yang terdalam bagi siapa dan apa saja yang dipandangnya.

–M. Syahrul Ulum–

Sebagian besar hidup Mpu Sedhah banyak dihabiskan di Padepokan milik kakeknya untuk mendalami ajaran Syiwapaksha dan Budhamarga berikut mengasah bakat unggulnya dalam bidang olah sastra. Meskipun sangat mahir dalam tulis menulis, Sedhah tetaplah manusia biasa yang seperti warna manusia yang lain juga memiliki hasrat ketertarikan kepada lawan jenis. Hanya saja nafsu birahinya lebih tertata dan terdidik karena dirinya adalah seorang brahmana yang sejatinya sedikit pun melakukan kesalahan akan berakibat fatal terhadap warna yang disandangnya. Oleh sebab itu, sifat kehati-hatian menjadi hal lumrah yang tetap akan terus diasah sepanjang hidupnya untuk menjaga derajat dan martabat ke-brahmana-annya.

Kepada seorang puteri seorang ksatrialah tambatan hati Sedhah tercurahkan. Tiada wanita lain yang sanggup mengalihkan perhatiannya. Wanita tersebut sangat cantik jelita menurut pandangan Sedhah sendiri. Sudah menjadi pedoman umum bahwa pandangan seorang brahmana dalam melihat keadaan tidaklah serta merta dari kulit luarnya saja, dirinya mendapatkan kawisesan dari olah spiritual yang dijalaninya selama bertahun-tahun yaitu bisa menembus ruang bathin yang terdalam bagi siapa dan apa saja yang dipandangnya. Jika hanya melihat dari kulit luarnya saja lantas kemudian tertarik, apa bedanya dengan manusia tak terdidik dalam arti nafsunya sudah memenjara kesadarannya, ujung-ujungnya hanyalah kekecewaan yang didapat.

Sedhah dengan kemampuan bathiniyah yang kuat merasa yakin bahwa dia tidak salah memilih. Dan Dyah Ayu Prabharini, putri seorang ksatria menjadi pilihan utama untuk dipinangnya.

Warta tentang rencana peminangan Mpu Sedhah terhadap Dyah Ayu Prabharini cepat menyebar ke suluruh penjuru Jenggala. Kedhaton Dhaha melalui pasukan telik sandi yang khusus bertugas untuk mengorek segala gerak gerik para pembesar Jenggala tidak mau ketinggalan untuk segera memastikan kebenaran warta tersebut. Segera tanpa basa basi tersusunlah rencana licik untuk menggagalkan pernikahan Sedhah yaitu dengan jalan menculik Prabharini. Bagi kalangan ksatria merupakan suatu kewajaran melakukan penculikan terhadap seorang gadis yang kemudian dinikahinya, sedang keturunan yang dihasilkannya mendapat sebutan sebagai Lembu Peteng. Pernikahan yang terlebih dahulu dilakukan dengan cara menculik gadis lazim dinamakan rakshasawiwaha. Para brahmana pun juga tidak ada alasan untuk bisa melarang.

Read also:  Menyoal Food Security di Tengah Pandemi Covid-19

Maka, diutuslah prajurit terpilih untuk melancarkan aksi penculikan tersebut, otak dari penculikan ini adalah Prabu Samarotsaha yang tidak lain adalah kakek dari sang Naranatha Jayabhaya. Dyah Ayu Prabarini berhasil dilarikan, calon mempelai wanita Sedhah tersebut lantas diperuntukkan kepada cucu Prabu Samarotsaha, sang Naranatha. Sehingga, bukanlah pernikahan Sedhah dengan Dyah Ayu Prabharini yang terjadi, melainkan pernikahan sang Naranatha dengan Dyah Ayu Prabarini yang dilangsungkan penuh kemeriahan. Namun, kemarahan Sedhah yang ditunggu-tunggu oleh pembesar Dhaha tak kunjung datang. Sedhah sudah terlatih lama untuk bersabar, wajah Sedhah terlalu teduh hanya karena ditinggalkan oleh tambatan hatinya.

Kehilangan apa saja di dunia ini tidak berarti apa-apa, tak mengguratkan kekecewaan sedikit pun oleh seorang brahmana sekelas Sedhah bila dibandingkan dengan kehilangan dharma-nya. Rasa cinta dan tambatan hati yang paling utama tetaplah hanya tercurahkan kepada Sang Hyang Jagad Pramudhita, pemilik cinta yang sejati atau sejatinya cinta.

Hukum karma tetap berjalan, barang siapa yang sengaja mengusik ketenangan seorang brahmana maka walat sudah menanti. Tepat sekian berjalannya waktu setelah pernikahan sang Naranatha dengan Dyah Ayu Prabharini, gonjang-ganjing terjadi di Kedhaton Dhaha, Prabu Samarotsaha tewas akibat serangan mendadak dari Jenggala yang dipimpin oleh Prabu Jayawarsa. Penduduk Jenggala meyakini tewasnya Prabu Samarotsaha di tangan Prabu Jayawarsa merupakan walat karena telah berani melukai hati seorang brahmana yang sebenarnya masih keturunan dari sang Mahawiku Baradhah.

bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *