89 views

Makna Hidup Sejahtera (Well-Being) Bagi Pekerja TPA

Tolok ukur kesejahteraan seseorang tidak dapat dilihat dari bergelimangnya harta ataupun tingginya pangkat yang dimiliki. Namun, kesejahteraan dapat diukur dan dirasakan dari berbagai hal, walaupun sebagai pekerja TPA sekalipun.

_Nikmatul Saadah_

Kesejahteraan memiliki peran penting dalam kehidupan setiap individu. Sehingga, tidak dapat dipungkiri bahwa indikator kesejahteraan yang dapat dirasakan oleh setiap orang bukan hanya dari segi finansial, pekerjaan yang mapan ataupun yang lainnya. Dalam kenyataannya, masih terdapat masyarakat yang kurang dalam segi finansial maupun yang lain. Tetapi, mereka dapat merasakan kesejahteraan yang menurut mereka kesejahteraan tersebutlah yang memberikan makna dalam kehidupan sehari-harinya. Jika menyoroti tentang beberapa masalah sosial yang ada salah satunya adalah kemiskinan, hal tersebut merupakan faktor ketidaksejahteraan masyarakat dalam ranah ekonomi, sehingga dapat mempengaruhi pola kehidupan sehari-hari.

Dalam buku Sosiologi Skematika, Teori, dan Terapan (2002) karya Abdulsyani, menyinggung tentang masalah kemiskinan bahwa dalam upaya mengentaskan kemiskinan yang kini semakin bertambah kompleks, campur tangan pemerintah merupakan alternatif yang dapat membangkitkan masyarakat jauh dari garis kemiskinan. Namun, terdapat masyarakat yang profesinya sebagai pekerja TPA (Tempat Pembuangan Akhir) yang mana mereka terdiri dari orang dewasa, orang tua, dan bahkan anak-anak yang juga turut menemani orang tua bekerja. Para pekerja tersebut dapat dikategorikan sebagai orang-orang yang memiliki masalah sosial yakni kemiskinan. Tetapi, mereka memiliki rasa dan makna sejahtera yang selalu membuat rasa semangat mereka tetap terjaga dalam mensyukuri apa yang telah diberikan kepada.mereka.

Beberapa hari lalu, tepatnya pada hari Sabtu, 03 Oktober, saya dan teman-teman dari Rumah Zakat Kota Kediri mendatangi TPA yang merupakan salah satu tempat sasaran para donatur untuk diberikan bantuan berupa nasi bungkus. Para pekerja yang berbaris rapih untuk menerima nasi, terdengar ucapan rasa syukur dan terima kasih yang tak terhenti dari para pekerja. Hal tersebut membuat saya terdorong untuk selalu mensyukuri apa yang telah Allah SWT berikan kepada saya. Dari gambaran di atas, telah mengingatkan kita tentang ayat Al- Quran yang mana, Allah SWT memerintahkan kepada manusia untuk saling peduli dan tolong menolong.

Read also:  Serat Katresnan Galuh-Panji

wa ta’āwanụ ‘alal-birri wat-taqwā wa lā ta’āwanụ ‘alal-iṡmi wal-‘udwāni wattaqullāh, innallāha syadīdul-‘iqāb

”Dan tolong-menolong lah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan. Dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwa lah kamu kepada Allah, sesungguhnya siksa Allah sangat berat.”

Saling berbagi kepada sesama merupakan salah satu perbuatan yang mulia di sisi Allah SWT. Nampak dari raut wajah para pekerja yang terlihat letih ketika harus bekerja di bawah teriknya matahari. Para pekerja cukup merasakan kelegaan hati ketika mereka dapat mengisi perut dengan sesuap nasi. Rumah zakat sebagai sebuah lembaga yang memiliki peran dalam mengentaskan kemiskinan, memberdayakan masyarakat ataupun bentuk-bentuk kegiatan yang dapat membantu masyarakat, patut untuk dijaga dan dikembangkan sebagai tangan kanan para donatur. Para donatur yang mempercayai rumah zakat sebagai wadah untuk menyalurkan bantuan sebagian harta yang dimiliki kepada masyarakat kurang mampu, yatim dan du’afa, baik dalam bentuk materi ataupun non materi adalah merupakan kepedulian yang memberikan rasa sejahtera bagi mereka.

Sering mendengar, orang kaya kalau tidak ada para petani yang menanam padi tidak bisa makan. Jika tidak ada orang bodoh, lalu siapa yang akan dipekerjakan oleh pengusaha atau pemiliki modal. Oleh karena persepsi-persepsi tersebut hanya dimiliki oleh masyarakat yang memiliki latar belakang pendidikan rendah, masyarakat yang tinggal di pedalaman ataupun masyarakat tradisional. Sehingga, hal tersebut mempengaruhi pola hidup yang tidak berkembang menjadi masyarakat yang pasrah terhadap keadaan. Para pekerja TPA yang notabenenya adalah masyarakat yang rendah dalam pendidikan dan masyarakat tradisional, sehingga rasa sejahtera mereka cukup dengan bergelut di dunia yang sehari-hari mereka jalani. Rasional sekali jika tidak ada pekerja TPA, siapa yang memilah dan mengolah sampah yang bekerjanya di tempat kotor dan berbau. Oleh sebab itu, apa yang sudah mereka jalani saat ini adalah bentuk dari takdir yang mereka harus syukuri dan tolak ukur kesejahteraan seseorang tidak dapat dilihat dari bergelimangnya harta ataupun tingginya pangkat yang dimiliki. Namun, kesejahteraan dapat diukur dan dirasakan dari berbagai hal, walaupun sebagai pekerja TPA sekalipun. Meskipun demikian, mereka harus tetap bangkit dari masalah sosial yang mereka hadapi.

Dalam upaya mengentaskan kemiskinan, tidak hanya pemerintah yang memiliki peran tersebut. Namun, peran kita sebagai orang yang merasa memiliki kemampuan untuk andil dalam membantu pemerintah juga sangat diperlukan.

Membangun pola pikir yang modern dalam menghadapi perkembangan saat ini sangatlah diperlukan oleh masyarakat pada umumnya. Terutama bagi masyarakat yang tinggal di pedalaman, pendidikan rendah, dan pola pikir yang masih tradisional.

Read also:  Birokrasi Baru Untuk New Normal; Tinjauan Model Dalam Pelayanan Publik di Era Covid-19

Hikmah yang dapat diambil dari peristiwa tersebut, sedikit mengutip dari Charles H. Cooley “The۟ Looking۟ Glass۟ Self”۟ yakni۟ perkembangan۟ kesadaran۟ diri sendiri sebagai pencerminan dari pandangan orang-orang lain. Dapat disimpulkan bahwa, manusia tidak dapat menjalani kehidupan seorang diri. Sehingga, kesadaran dan peran kita, sangatlah dibutuhkan bagi orang-orang yang membutuhkan uluran tangan, seperti para pekerja TPA. Orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap mereka akan mampu membangkitkan harapan dan tujuan mereka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *